Peneliti dan Juru Masak


Metode dan teknik analisis data dalam penelitian apapun memegang peranan yang sangat penting. Ia tidak saja berfungsi sebagai pengarah jalannya penelitian tetapi lebih sebagai pisau analisis yang akan digunakan dalam “membedah” data dari konteksnya. Ia dapat dianalogikan sebagai teknik atau cara memasak suatu masakan. Untuk dapat menghasilkan masakan yang lezat, tidak hanya diperlukan bahan-bahan dasar yang baik tetapi yang lebih penting adalah penguasaan sang chef terhadap cara-cara memasak atau tips-tips memasak yang baik dan benar. Pisau apa yang harus digunakan untuk menghasilkan irisan daging yang pipih, atau potongan sayuran. Alat apa yang digunakan untuk menghasilkan bumbu yang halus dan merata, dan bagaimana cara memasak sayuran, yang tentu saja berbeda dengan cara memasak daging atau ikan laut, sebagainya, bagaimana cara menghidangkan masakan tersebut agar tampak lebih menarik sehingga menggugah selera makan.

Peneliti sebagai chef dalam penelitiannya harus pula mengetahui alat dan cara apa yang harus digunakan dalam mengolah data penelitiannya, dan bagaimana cara menyajikan hasil analisisnya itu agar lebih menarik untuk dibaca dan mudah dipahami.

Sudaryanto (1993) mengemukakan dua metode analisis data dalam penelitian linguistik yaitu (1) metode padan dan (2) metode agih. Alat penentu metode padan di luar,  terlepas, dan  tidak menjadi bagian dari bahasa yang bersangkutan. Alat penentu dimaksud menurut Sudaryanto (1993: 15) dapat dikelompokkan atas lima sub jenis yaitu (a) alat penentunya referensial (metodenya disebut referensial), (b) alat penentunya berupa organ wicara (nama metodenya fonetis artikulatoris), (c) alat penentunya langue lain (metodenya bernama translasional), (d) alat penentunya tulisan (nama metodenya ortografis, dan (e) alat penentunya mitra wicara (metodenya bernama pragmatis).

Berbeda dengan metode padan, alat penentu metode agih adalah bagian dari bahasa yang bersangkutan. Metode ini dapat dikelompokkan atas tujuh sub jenis yaitu pertama teknik lesap, yaitu dengan cara melesapkan atau menghilangkan unsur-unsur tertentu  dalam satuan lingual tertentu. Teknik kegunaan teknik ini adalah untuk mengetahui kadar keintian unsur yang dilesapkan. Sebagai contoh, satuan lingual grande ‘besar” pada  une grande maison ‘rumah besar’ bersifat tidak inti sementara unsur maison bersifat inti.

(1) une grande maison

*une grande

une maison

Kedua adalah teknik ganti yaitu dengan cara menggantikan satuan lingual dengan satuan lingual lain. Teknik ini memiliki kegunaan kadar kesamaan kelas kata atau kategori unsur yang terganti dengan yang mengganti. Sebagai contoh, kata le livre memiliki kesamaan kategori dengan le portable dan le sac karena ketiganya dapat saling menggantikan, tetapi tidak bentuk aller, dan gentil

(2) Le livre

Le portable

Le sac      est sur la table

*aller

*gentille

Ketiga teknik perluas, yaitu dengan cara memperluas satuan lingual tertentu ke kanan atau ke kiri. Teknik ini berguna untuk mengetahui kesamaan semantis satuan lingual tertentu. Sebagai contoh, kata sommet dengan kata cime yang bermakna ‘bagian tertinggi atau puncak’ tampak sebagai padanan kata, tetapi memiliki perbedaan semantis karena

(3) Le sommet d’un arbe

La cime d’un arbre

Le sommet de l’echelle sociale

*la cime de l’echelle sociale

Keempat, teknik sisip yaitu dengan cara menyisipkan satua lingual tertentu diantara dua satuan lingual yang berdampingan. Teknik ini berguna untuk mengetahui kadar keeratan hubungan kedua unsur yang dipisahkan. Sebagai contoh, satuan homme dan brave memiliki tingkat keeratan  yang rendah karena bisa disisipi untuk lain, sementara satuan chemin dan de fer memiliki tingkat keeratan yang tinggi.

(4) Un homme tres brave

*Un chemin sefait de fer

Kelima, teknik balik yaitu dengan cara membalik posisi atau letak satuan lingual tertentu dari satuan lingual lainnya. Guna teknik ini adalah untuk mengetahui kadar ketegaran letak satuan lingual yang dibalik. Sebagai contoh, satuan penanda temporal hier, memiliki ketegaran letak yang rendah, sementara pronomina subjek memiliki tingkat ketegaran tinggi.

(5) Hier je suis allé à Jakarta

Je suis allé à Jakarta hier

Je suis allé, hier, à Jakarta

*Suis je allé à Jakarta hier

*suis allé à Jakarta hier, je

Keenam, teknik ubah ujud yaitu dengan cara memparafrasekan satuan lingual sehingga memiliki bentuk lain yang memiliki pesan yang sama. Salah satu kegunaan teknik ini adalah untuk mengetahui satuan makna konstituen sintaksis yang disebut peran sintaktik. Seperti pada contoh satuan la clé, dengan beragam wujud sintaktik, tetap berperan instrumental.

(6) On utilise la clé pour ouvrir la porte

La clé ouvre la porte

La porte est ouvert à clé

Il se sert d’une clé pour ouvrir la porte

Ketujuh adalah teknik ulang yaitu dengan cara mengulang satuan lingual tertentu. Guna teknik ini adalah untuk mengetahui kejatian atau identitas satuan lingual tertentu. Dalam bahasa perancis, teknik ini sangat jarang digunakan, karena dalam morfologis bahasa Perancis, tidak dikenal adanya bentuk perulangan kata (meskipun ada bentuk pengulangan bunyi dan silabe karena pengaruh onomatope). Dalam bahasa Indonesia dikenal adanya bentuk

(7) Rumah  >>  rumah-rumah (jamak)

Makan  >> makan-makan  (perbuatan yang tak pasti)

Cantik >> cantik-cantik (semuanya cantik)

Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: